Home > Uang Kertas > Kemerosotan uang kertas

Kemerosotan uang kertas

Kita seringkali mendengar istilah dollar menguat ataupun dollar melemah. Sebenarnya apa sih itu ?. bagi yang tidak berkecimpung dalam perdagangan mata uang barangkali kita memahaminya sebagai hal yang biasa saja.dan tidak begitu berpengaruh terhadap kita. Namun jangan salah penguatan ataupun pelemahan mata uang Negara adidaya tersebut sangat mempengaruhi perekonomian Negara lain.

Saya akan memberikan gambarannya seperti ini. Jika US$ menguat, maka harga barang2 yang di impor ke Negara kita akan semakin mahal. dan industry di Negara kita masih mengandalkan bahan baku dari impor. Jika dollar menguat, maka hal ini sangat merugikan importer terutama industry yang mnegandalkan barang impor tadi, tapi justru sebaliknya bagi exporter akan sangat menguntungkan. Misalkan jika kemarin US$ 1 = Rp.8500 dan saat sekarang US$ = Rp.9500, Jika sebuah industry kemarin mengimpor bahan baku senilai US$1juta, maka industry tersebut kemarin akan membayar Rp.8.500.000.000. namun jika mengimpornya saat sekarang maka akan membayar 1 milyar Rupiah lebih banyak. Dengan biaya produksi yang meningkat ini otomatis industry akan menaikkan harga dan yang menanggung akibatnya adalah konsumen. Bagi exporter dengan peninguatan US$ seperti tadi. Maka sang exporter akan semakin untung berlipat. Namun jangan juga terburu menyimpulkan demikian. Karena dengan pelemahan US$ dan penguatan Rupiah kita jika terlalu tinggi menyebabkan hal yang buruk juga. Sebab harga barang kita menjadi mahal di mata. Dan kita justru akan kebanjiran produk asing terutama yang mata uangnya melemah.

Itulah uang kertas yang berfluktuasi antara satu Negara dengan Negara lain, Akhir –akhir ini dolar Amerika terlihat sangat merosot. Kalau setahun yang lalu kita masih membeli US$ dengan nilai diatas Sembilan ribu rupiah, namun saat ini hanya di kisaran Rp8500. Kekuatan mata uang bergantung pada ekonomi di Negara yang menopangnya, akhir-akhir ini untuk membeli barang2 import di Indonesia relative lebih murah dibandingkan setahun yang lalu. Karena pengaruh kekuatan mata uang ini.

Namun bagaimana kekuatan mata uang jika di ukur dengan emas ?. Sobat pembaca pastilah sudah mengetahui jawabannya. Uang betul-betul tidak mampu bersaing dengan emas dalam daya beli. Perhatikan grafik dibawah ini.

Gambar kemerosotan uang kertas terhadap emas… diolah dari berbagai sumber

Untuk menyamakan agar memudahkan membaca grafik ini saya mulai pada 2002 dengan nilai 100, baik emas ataupun seluruh mata uang saya jadikan 100. Dan ternyata setelah 9 tahun berjalan. Emas masih tetap perkasa dengan nilai 100, namun seluruh mata uang tinggal rata2 18,2% dari nilai awalnya. Dalam grafik ini kemerosotan terburuk di alami oleh mata uang Inggris menjadi 13,4% dari nilai awalnya. US$ menempati terburuk kedua, menjadi 15,7%. Kemudian Rupiah 16,9%, lalu mata uang Uni Eropa masih bernilai 20,8% dari nilai pada 2002. Dan yang paling baik adalah Yen Jepang, masih bernilai 24,2%.

Pada 2004 ada 2 mata uang yang kinerjanya lebih baik dibandingkan emas, yaitu euro dan pound Inggris. Bahkan euro sempat bertengger di 101%, lebih tinggi 1% dibandingkan emas. namun dalam jangka panjang nasibnya juga sama saja seperti pada mata uang yang lainnya. Pada 2008 lalu saat terjadi krisis financial di Amerika. Hanya mata uang Yen yang terlihat meningkat tajam. Namun lagi-lagi secara periode jangka panjang. Tetaplah mata uang kertas tetaplah kertas yang tidak bisa menjadi emas. nilainya terus merosot yang mengikuti fitrahnya sebagai kertas……………… wassalam

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: