Home > Artikel > System Moneter sekarang

System Moneter sekarang

Pada mulanya, uang kertas yang diedarkan oleh pemerintah suatu negara dijamin dengan persediaan emas yang dimiliki oleh negara tersebut. Ketentuan itu mengacu kepada Bretton Woods Agreement yang diteken dalam sebuah konferensi internasional yang dihadiri oleh sejumlah negara pada tanggal 1-22 Juli 1944 di Bretton Woods, New Hampshire. Meskipun ketika itu Perang Dunia II sedang berkecamuk, namun tidak kurang dari 730 delegasi dari 44  negara hadir dalam pertemuan tersebut.

Konferensi internasional di Bretton Woods diadakan setelah terjadinya Great Depression yang menghantam sejumlah negara pada tahun 1929 sampai menjelang tahun 1940. Untuk mempermudah aktifitas perdagangan internasional dan menutupi biaya rekonstruksi pasca perang, negara-negara yang hadir dalam konferensi tersebut sepakat untuk menjadikan dollar sebagai standar mata uang dunia.

Selain itu, pertemuan tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah organisasi moneter dan bank internasional yang kemudian disebut dengan International Monetary Fund (IMF) dan International Bank for Reconstruction and Development atau lebih populer dengan nama World Bank (Bank Dunia). IMF didirikan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar mata uang negara-negara di dunia, sedangkan World Bank untuk memberikan pinjaman modal kepada negara-negara miskin yang membutuhkannya.

Untuk kesepakatan yang pertama, yakni menjadikan US dollar sebagai standar mata uang dunia, para pengambil kebijakan di Amerika saat itu berusaha meyakinkan negara-negara yang lain bahwa mata uang mereka disokong dengan emas. Ketika itu, 35 dollar setara dengan 1 ons emas.

Hingga beberapa puluh tahun kemudian isi Perjanjian Bretton Woods masih dipatuhi oleh negara-negara yang menekennya. Namun pada tahun 1971 ketika Amerika dipimpin oleh Richard Nixon, perjanjian itu dilanggar. Secara sepihak, Amerika Serikat menetapkan kebijakan dalam negerinya tanpa memperhatikan butir-butir perjanjian tersebut. Dan peristiwa itu biasa disebut “Nixon Shock”. Karena memang aturan yang dilanggar tersebut membuat shock Negara-Negara lain yang telah menjadikan US$ sebagai standar mata uangnya.

Di bawah pemerintahan Nixon, Amerika mencetak dollar sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan cadangan emas mereka. Artinya, dollar yang mereka terbitkan saat itu tidak didukung oleh emas sehingga uang kertas tersebut sebenarnya tidak bernilai apa-apa. Hal itu tentu menguntungkan pihak Amerika karena mereka bisa membeli komoditas apapun hanya dengan mencetak uang. Padahal, biaya untuk mencetak selembar 1 US dollar tidak sampai 1 sen. Hanya 4 sen US dollar. Apapun komoditi yang dibeli oleh Amerika, seperti kopi, minyak sawit, bijih besi, batu bara dan sumber daya alam lainnya yang diusahakan dengan susah payah, dengan cucuran keringat dan biasanya dari Negara miskin hanya di tukar dengan uang kertas yang bernama US dollar. Yang mereka usahakan dengan mesin2 percetakannya. Jika US dollar ini melemah dan terkena inflasi, maka akibatnya kekayaan Negara lain yang memegang US dollar-pun juga terkena dampaknya. Jikalau saja system uang emas masih berlaku, maka tentunya tidak akan terjadi perpindahan kekayaan yang tidak adil ini. Negara miskin menjual hasil bumi, maka yang didapat adalah emas. dan emas nilainya tetap sepanjang masa. Sehingga kekayaan yang disimpan di Negara penghasil komoditas-pun agar terjaga.

Saat ini, hampir seluruh orang yang hidup di permukaan bumi mengenal apa yang dinamakan fiat money atau uang kertas. Ungkapan pepatah “time is money” atau “ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang” menunjukkan betapa uang bukan hanya begitu akrab dalam kehidupan masyarakat, namun juga sangat berarti.

Mengapa uang sangat populer di masyarakat ? Tentu karena hampir seluruh aspek kehidupan kita selalu berkaitan dengan uang. Setiap kita ingin mendapatkan barang atau jasa, maka kita harus lebih dulu memiliki uang. Membeli bahan makanan, pakaian, membayar tagihan listrik, biaya sekolah, ongkos perjalanan, dan lain-lain semua membutuhkan uang.

Uang yang saat ini tak terpisahkan dari kehidupan kita memiliki sejarah yang sangat panjang. Masyarakat zaman dulu tidak mengenal uang. Bahkan sistem barter pun mereka tidak paham. Mereka memenuhi kebutuhannya sendiri dengan memanfaatkan alam untuk hidup.

Mereka berburu jika lapar, menangkap ikan, atau memetik buah-buahan di hutan. Namun seiring meningkatnya kebutuhan mereka dan terbatasnya alat pemenuhan yang bisa mereka temukan di alam, mereka kemudian mulai mengenal sistem barter atau tukar-menukar barang.

Barter inilah yang selanjutnya dipakai manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang tinggal di dekat hutan mudah mendapatkan buah atau rempah-rempah namun ia kesulitan mendapatkan ikan. Sementara itu, orang yang tinggal di daerah pantai tidak kesulitan mendapatkan ikan, namun susah mencari buah dan rempah-rempah. Karena latar belakang semacam inilah, maka ketika dua orang tersebut bertemu mereka lantas bertukar komoditas.

Seiring berkembangnya akal budi manusia dan meningkatnya peradaban mereka, sistem barter kemudian dirasa tidak praktis dan kurang efisien. Usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui sistem ini terkendala oleh beberapa hal, di antaranya:

  1. Sulitnya menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan;
  2. Sulitnya menemukan orang yang memiliki keinginan yang sama. Pemilik barang yang dibutuhkan oleh seseorang belum tentu mau menukar barangnya;
  3. Sulitnya menyetarakan nilai antara barang-barang yang berbeda, misalnya antara kerbau dan ayam;
  4. Barang-barang tertentu mudah rusak, seperti hasil-hasil pertanian atau perikanan.

Karena alasan-alasan di atas, maka munculah gagasan untuk menggunakan benda-benda tertentu sebagai alat tukar. Untuk keperluan itu, maka benda yang digunakan sebagai alat tukar haruslah benda-benda yang dianggap bernilai tinggi, mempunyai nilai magis, atau yang biasa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Benda-benda tersebut dipilih karena tidak semua benda diterima oleh masyarakat saat itu. Pada tahap peradaban seperti itulah bangsa Romawi menggunakan garam sebagai alat tukar dan untuk membayar upah. Karena luasnya daerah kekuasaan Romawi, pengaruh bangsa itu masih bisa kita lihat hingga saat ini. Masyarakat Inggris yang dulu tunduk di bawah pemerintahan Romawi menyebut upah dengan istilah salary. Istilah itu berasal dari bahasa Romawi salarium yang artinya ‘garam’.

Meskipun alat tukar waktu itu sudah ada namun bukan berarti kesulitan dalam aktifitas perdagangan tidak ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain disebabkan benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan, sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) sulit dilakukan. Di samping itu, kesulitan juga muncul akibat kurang awetnya benda-benda yang dijadikan sebagai alat tukar itu.

Setelah beberapa lama menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut, munculah apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga banyak digemari oleh masyarakat, tahan lama, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan.

Logam yang dijadikan sebagai alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam yang terbuat dari emas dan perak disebut juga sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik atau nilai bahan uang tersebut sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada koin uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual, atau memakainya sebagai alat tukar. Mereka juga mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia, munculah kesulitan dalam penggunaan uang emas dan perak. Ketika intensitas perdagangan semakin tinggi dan dilakukan dalam skala yang lebih besar, permintaan masyarakat terhadap uang emas dan perak semakin meningkat. Pada saat yang sama, persediaan kedua logam mulia tersebut terus menipis. Karena faktor-faktor itu maka diciptakanlah uang kertas.

Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti kepemilikan emas dan perak yang menjadi alat untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di tempat penempaan dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas secara langsung sebagai alat tukar. Sebagai gantinya, mereka menjadikan ‘kertas-bukti’ itu uang.

Di sadur dari buku : “The Dinar Way”

Penerbit                : Qultum Media

Penulis                  : Sholeh Dipraja

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: