Home > Artikel > Apa permasalahan utama dalam sistem keuangan kita?

Apa permasalahan utama dalam sistem keuangan kita?

System keuangan kita yang juga berbasis uang kertas, juga sangat rentan terhadap gejolak financial, dan ini sudah terbukti sepanjang perjalanan Republik kita tercinta ini. Pada tahun 1965, saya mendapatkan cerita dari orang tua. Bahwa saat itu terjadi pemotongan nilai uang sedangkan nilai barang tidak berubah. Pemotongannya tidak tanggung-tangung, sebesar 3 angka nol di belakang. Nilai uang berubah menjadi tinggal seper seribu dari nilainya semula. Bahkan masih menurut cerita orang tua. Ada seorang kawannya yang stress gara-gara peristiwa tersebut. Bagaimana tidak. Waktu itu sudah menyimpan uang dalam bumbung atau kita mengenalnya celengan  yang terbuat dari bamboo yang biasanya masyarakat jawa yang tiang rumahnya dari bamboo lalu di lubangi dan dipakai untuk menyimpan uang. Karena memang bank saat itu belum se popular sekarang. Uang tersebut rencananya akan dipakai untuk membeli rumah, karena selama ini hanya mengontrak, namun tiba2 saja Presiden Sukarno mengumumkan tentang adanya sanering tersebut. Maka habislah kekayaan orang orang yang menyimpan uang kertas rupiah, hanya tinggal seperseribu dari nilainya. Dan pupuslah harapan teman orang tua saya tadi.

 

Dan karena saat itu komunikasi juga belum berjalan dengan baik, masyarakat kota yang mempunyai radio, ataupun berlangganan Koran akan lebih cepat mengakses informasi. Namun bagi masyarakat pedesaan pastilah ketinggalan informasi Mereka yang sudah mengetahui berita tentang sanering memanfaatkan situasi ini bergegas mengambil keuntungan dengan pergi ke kampung-kampung dan pelosok desa, dengan uang yang sebenarnya sudah tinggal seperseribu tadi. Mereka membeli benda2 riil, seperti kayu, binatang peliharaan, sayuran. Dll. Orang2 yang ketinggalan informasipun akan sangat di rugikan dengan peristiwa ini.

Pada tahun 1984, saya masih duduk di bangku SMP kelas 1, saat itu juga terjadi keguncangan ekonomi. Presiden Soeharto yang waktu itu memimpin Negeri ini mengumumkan mendevaluasi mata uang kita 40% terhadap US dollar. Waktu itu kami sempat berbincang-bincang dengan teman sebaya dan menceritakan bahwa ayahnya baru saja menjual motornya, dan katanya. Harga  motor ayahnya dihargai lebih tinggi sari saat waktu beli. Bagi kami yang waktu itu tidak mengerti apapun tentang ekonomi hanya bilang. “wah motor sudah dipakai kok dijual malah untung ya”. Namun saat ini kita memahaminya bahwa bukan harga motornya yang naik. Tapi nilai Rupiah kita yang diturunkan oleh Pemerintah.

Peristiwa berikutnya adalah pada tahun 1998, yang dikenal dengan istilah “krismon”. Krisis moneter, dimana kawasan Asia Tenggara di obrak abrik nilai mata uangnya oleh seorang pedagang mata uang yang bernama George Soros. Dan Negara kita tercinta yang paling parah dampaknya. Salah satunya adalah terjadinya pergantian kepemimpinan nasional dari Soeharto ke Habibi. Nilai US$1 yang tadinya berharga Rp.2500 menjadi Rp.10.000 bahkan sempat mencapai Rp17.000.  Banyak Industri yang gulung tikar, karena bahan bakunya naik sangat tinggi ataupun pembiayaan industrinya dengan hutang dalam bentuk US$. Bahkan Suku bunga Deposito mencapai di atas 60%/tahun. Hal ini dilakukan pemerintah untuk meredam pelarian uang keluar Negeri dan meredam inflasi yang membumbung tingi. Namun kejadian justru ada yang di untungkan seperti halnya exporter yang menikmati rupiah lebih banyak, dengan pelemahan mata uang ini.

Dulu, ketika saya masih belajar ilmu ekonomi di bangku Sekolah Menengah Atas, saya mendapatkan materi tentang uang kertas. Uang kertas diciptakan sebagai alat transaksi dalam perdagangan karena lebih praktis, ringan, mudah dilipat, dan fleksibel. Barangkali gagasan seperti itu bisa dimengerti saat awal-awal dulu uang diciptakan. Namun saat ini, apakah hal itu masih bisa dipertahankan?

Pada tahun 1965 Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk melakukan sanering atau pemotongan tiga angka nol pada besaran uang yang beredar saat itu. Uang pecahan yang tadinya Rp. 1.000,- menjadi Rp 1,- dan Rp. 10.000,- menjadi Rp. 10,-. Hal ini dilakukan untuk meredam inflasi yang melambung tinggi.

Dengan adanya keputusan tersebut, orang-orang yang memegang banyak uang menjadi sangat dirugikan. Sebab, misalnya, uang Rp. 10.000,- yang biasanya dapat digunakan untuk membeli sebuah peralatan rumah tangga menjadi tidak ada artinya. Karena sanering, uang Rp. 10.000,- hanya tinggal Rp. 10,-.

Kabar berikutnya terjadi pada tahun 2010 lalu. Karena sejumlah alasan, lagi-lagi Bank Indonesia berencana memotong tiga buah nol uang Indonesia. Jika betul-betul dilakukan, kebijakan tersebut akan membawa dampak yang berbeda dengan yang terjadi pada 1965. Sebab keputusan itu hanya akan menyederhanakan uang kertas saja dan tidak untuk meredam inflasi seperti pada tahun 1965.

Kebijakan baru itu oleh Bank Indonesia dinamakan dengan redenominasi. Dalam redenominasi, uang Rp. 100.000,- akan disederhanakan menjadi Rp. 100,- dan Rp. 50.000,- menjadi Rp. 50,-. Meski angka-angka tersebut tampak berubah namun hal itu sebenarnya tidak berpengaruh terhadap nilai barang. Misalnya, baju yang sebelumnya bisa didapat dengan Rp. 100.000,-, setelah redenominasi harganya menjadi Rp.100,-. Redenominasi tidak membuat daya beli masyarakat meningkat, tapi tetap.

Lantas, mengapa redenominasi dilakukan? Tidak lain sebabnya adalah karena nilai mata uang kertas kita yang terus melemah, yang mengakibatkan pecahan uang yang diterbitkan semakin banyak angka nolnya. Jika saya ketika masih duduk di SD dulu masih sempat menemui pecahan Rp. 1,-, kini untuk menemukan pecahan Rp. 25,- saja susahnya bukan main. Pecahan uang terkecil yang paling banyak dijumpai saat ini adalah Rp. 100,-. Pecahan terbesar saat itu adalah Rp. 10.000,-, namun kini sudah berubah menjadi Rp. 100.000,-.

Kembali pada alinea pertama pada bab ini. Dicetaknya uang kertas dengan tujuan agar alat tukar masyarakat menjadi lebih praktis, lebih ringan, dan lebih fleksibel dibandingkan uang emas, agaknya sudah tidak berlaku lagi. Sebab, uang kertas yang saat ini beredar di masyarakat justru lebih tidak praktis, tidak ringan, dan tidak fleksibel.

Untuk membuktikan pendapat ini, Saya melakukan pengecekan apakah benar uang kertas lebih ringan dibandingkan uang emas (dinar). Saya menggunakan timbangan digital yang tingkat akurasinya cukup tinggi, hingga 2 digit di belakang koma. Satu lembar uang Rp. 100.000,- yang masih baru beratnya mencapai 0,95 gram. Sementara itu, 1 dinar beratnya mencapai 4,25 gram.

Saat ini, 1 dinar nilainya sama dengan Rp. 1.800.000,-. Agar uang pecahan Rp. 100.000,- itu sama dengan 1 dinar, maka saya harus mengalikan berat uang kertas tersebut dengan angka 18, sehingga 0,95 gram x 18 = 17,1 gram. Nah, terbukti bukan, uang kertas ternyata lebih berat dibandingkan koin dinar emas. Perbandingan itu saya lakukan menggunakan uang pecahan yang besar. Bagaimana jadinya jika saya menggunakan uang pecahan yang lebih kecil?

 

dari buku : the Dinar way (penulis : Sholeh Dipraja ——qultummedia@jakarta)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: